KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kami. Salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. yang telah mengantarkan manusia dari alam kejahilan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Dengan taufik dan hidayah-Nya kami telah menyelesaikan makalah yang berjudul ’’Kiat Sukses Belajar di STAIN’’. Besar harapan kami semoga dosen pembina bisa menerima dengan senang hati dan sebelumnya tidak menutup kemungkinan masih jauh dari kesempurnaan yang memerlukan perbaikan ,oleh karena itu kami mohon kepada dosen untuk memberikan saran kepada kami.
Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas ini, pun juga kepada dosen yang telah memberikan tugas makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat, amin.
Pamekasan, 7 September 2011
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah Perguruan Tinggi adalah memiliki budaya (culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik mahasiswa, dosen, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi, menjadikan Perguruan Tinggi tersebut unggul dan favorit di masyarakat.
Sebuah Perguruan Tinggi harus mempunyai misi menciptakan budaya yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.
Budaya-budaya yang terjadi di berbagai Perguruan Tinggi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah mahasiswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil.
Contohnya adalah budaya dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat daripada peningkatan mutu kampus. Seperti peraturan harus memakai sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak kampus sangat sulit untuk diminta bantuan dananya ketika ada mahasiswa yang berniat mengembangkan kreativitasnya. Misalnya berniat membuat film, atau mengadakan pameran robotik. Alasan pihak kampus bermacam-macam, dari yang tidak ada dana, sampai dananya sudah habis terpakai untuk hal-hal lainnya. Dari sinilah mahasiswa mencontoh perilaku pihak akademik, pada saatnya nanti, mahasiswa yang telah dewasa yang telah menduduki kursi pemerintahan akan bersikap sama seperti apa yang telah dilihatnya di kampusnya dulu.
Mengurusi hal-hal kecil juga adalah kesenangan pemerintah akhir-akhir ini. Seolah itu adalah pelarian dari masalah-masalah yang besar yang melanda negeri ini. Simaklah ketika Bush datang ke Indonesia tanggal 20 November 2006, pemerintah menyiapkan uang sebanyak 6 milyar untuk membuat landasan pacu baru, lalu kasus skandal seks anggota DPR yang terlalu dibesar-besarkan, juga masalah poligami seorang uztads ternama yang terlalu dipusingkan. Masalah-masalah korban lumpur Porong, gempa bumi Yogya, tsunami Aceh, kesejahteraan masayarakat, pelayanan kesehatan yang masih minim dan pelaksanaan pendidikan yang simpang siur menjadi terlupakan. Ini benar-benar kesalahan yang nyata. Mereka, para wakil rakyat kita tentunya mencontoh sikap-sikap yang berlaku saat mereka masih menjadi mahasiswa.
Berpijak pada berbagai pertimbangan di atas, kiranya perlu bagi calon mahasiswa untuk memilah dan memilih Perguruan Tinggi yang akan menjadi tempat menimba ilmu, wawasan, dan mengembangkan skill mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada beberapa waktu terakhir ini, masyarakat mulai banyak yang sadar akan pentingnya pedidikan. Sehingga diantara mereka tidak sedikit yang mencari sekolah/ kampus favorit dan berkualitas untuk pendidikan anaknya.
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang menjadi pilihan bagi calon mahasiswa, di samping melaksanakan proses perkuliahan yang sesuai dengan syariat Islam, STAIN hingga saat ini mencetak output yang mempunyai nilai tersendiri di masyarakat.
Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kea rah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan, secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui system kurikuler.
Dalam Al-Qur`an Surat an-Nahl ayat 125 Allah berfirman:
• •
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Keberhasilan dan kegagalan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh ketepatan guru dalam memilih dan menentukan strategi atau metode. Dan pada dasarnya tidak ada strategi atau metode yang paling ideal. Sebab masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Jika pemilihan dan penentuan strategi tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap sifat dari masing-masing metode, maka pencapaian tujuan pembelajaran tidak akan optimal dan bahkan mengalami kegagalan. Guru harus benar-benar memahami sifat-sifat masing-masing metode agar lebih mudah dalam memilih dan menentukan metode yang paling serasi dan sesuai untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Winarno Surakhman (1990:97) mengatakan bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu anak didik, tujuan pembelajaran, situasi, fasilitas atau sarana dan guru.
Jadi, untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang optimal guru diharapkan dapat menggunakan berbagai strategi secara tepat dan optimal.
Setelah melaksanakan pembelajaran/perkuliahan secara tepat dan optimal, tentunya harus dilakukan evaluasi untuk memperbaiki sistem yang masih belum sempurna.
Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya. Selain itu, evaluasi bertujuan mengetahui siapa di antara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar dapat mengejar kekurangannya. Sasaran evaluasi tidak bertujuan mengevaluasi peserta didik saja, tetapi juga bertujuan mengevaluasi pendidik, yaitu sejauh mana ia bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Fungsi evaluasi adalah membantu peserta didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya. Di samping itu, fungsi evaluasi juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbaangkan adequate (cukup memadai) metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya. Sasaran-sasaran evaluasi pendidikan Islam secara garis besarnya melihat empat kemampuan peserta didik, yaitu: (1) sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya; (2) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat; (3) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitar; dan (4) sikap dan pandangannya terhadap diri sendiri elaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta selaku khalifah-Nya di muka bumi. Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi kemampuan teknik menjadi masing-masing sebagai berikut:
1. Sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., yang tertuang dalam bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dan haji.
2. Sejauh mana ia dapat menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti akhlak yang mulia, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
3. Bagaimana is berusaha mengelola dan memelihara serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak ataukah memberi makna bagi kehidupan alam semesta.
4. Bagaimana dan sejauh mana ia memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku, dan agama.
Kalau dilihat lebih jauh, ciri-ciri khusus bagi evaluasi pendidikan modern adalah sebagai berikut: (1) lebih mementingkan hasil belajar fungsional daripada pengertian, skill, dan kesanggupan. Hal-hal yang diperhatikan adalah keseluruhan aspek perkembangan anak, baik fisik, intelek, emosi, sosial, spiritual, serta persesuaian (adjustment) individu dengan hubungan sosialnya; (2) lebih menitik-beratkan pada pengukuran (measurement) terhadap pemahaman dan interpretasi dan tidak lagi terhadap informasi yang terpisah-pisah, skill, maupun kesanggupan; (3) makin banyak menggunakan tes-tes informal sebagai pelengkap tes-tes formal; (4) mengembangkan analisis unsur-unsur kesanggupan mental seperti analisis terhadap kesanggupan membaca; (5) sebagai teknik dikembangkan untuk mengukur peranan individu maupun kelompok; dan (6) tes-tes kepribadian makin dikembangkan dan disebarkan.
Allah SWT. dalam mengevaluasi hamba-hamba-Nya tidak memandang formalitas, tetapi memandang substansi di balik tindakan hamba-hamba tersebut. Bahkan kualitas suatu perilaku lebih dipentingkan daripada kuantitasnya dalam proses evaluasi. Firman Allah SWT.: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj:37). “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. al-Mulk: 2) sabda Nabi SAW.: “sesungguhnya Allah tidak mengevaluasi pada bentuk dan rupa, postur tubuh serta harta kamu, tetapi Allah mengevaluasi pada hati dan amal perbuatanmu” (HR. Tabrani).
BAB III
PENUTUP
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.
Pembalajaran pada dasarnya juga merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat mengubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru atau pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan strategi pembelajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Biasanya dengan kasus tersebut mengakibatkan pelaksanan strategi pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran oleh guru tidak efektif dan efisien, baik dari segi proses maupun hasil yang dicapai.
Dari segi proses, pelaksanaan strategi pembelajaran kurang kondusif, yang ditandai dengan tidak tumbuhnya motivasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Cenderung siswa bersifat pasif terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kemudian dari segi hasil, hal itu dapat diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siwa rendah, dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Maka dari itu dibutuhkan beberapa strategi dalam proses perkuliahan, sehingga mahasiswa dapat merecieve mata kuliah dengan baik serta mudah mengimplementasikannya di masyarakat.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi mahasiswa dan calon mahasiswa STAIN Pamekasan dan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar