awink
SELAMAT DATANG DI BLOG Awink dot com
Rabu, 19 Oktober 2011
Kiat Sukses Menjadi Mahasiswa STAIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kami. Salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. yang telah mengantarkan manusia dari alam kejahilan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Dengan taufik dan hidayah-Nya kami telah menyelesaikan makalah yang berjudul ’’Kiat Sukses Belajar di STAIN’’. Besar harapan kami semoga dosen pembina bisa menerima dengan senang hati dan sebelumnya tidak menutup kemungkinan masih jauh dari kesempurnaan yang memerlukan perbaikan ,oleh karena itu kami mohon kepada dosen untuk memberikan saran kepada kami.
Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas ini, pun juga kepada dosen yang telah memberikan tugas makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat, amin.
Pamekasan, 7 September 2011
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah Perguruan Tinggi adalah memiliki budaya (culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik mahasiswa, dosen, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi, menjadikan Perguruan Tinggi tersebut unggul dan favorit di masyarakat.
Sebuah Perguruan Tinggi harus mempunyai misi menciptakan budaya yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.
Budaya-budaya yang terjadi di berbagai Perguruan Tinggi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah mahasiswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil.
Contohnya adalah budaya dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat daripada peningkatan mutu kampus. Seperti peraturan harus memakai sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak kampus sangat sulit untuk diminta bantuan dananya ketika ada mahasiswa yang berniat mengembangkan kreativitasnya. Misalnya berniat membuat film, atau mengadakan pameran robotik. Alasan pihak kampus bermacam-macam, dari yang tidak ada dana, sampai dananya sudah habis terpakai untuk hal-hal lainnya. Dari sinilah mahasiswa mencontoh perilaku pihak akademik, pada saatnya nanti, mahasiswa yang telah dewasa yang telah menduduki kursi pemerintahan akan bersikap sama seperti apa yang telah dilihatnya di kampusnya dulu.
Mengurusi hal-hal kecil juga adalah kesenangan pemerintah akhir-akhir ini. Seolah itu adalah pelarian dari masalah-masalah yang besar yang melanda negeri ini. Simaklah ketika Bush datang ke Indonesia tanggal 20 November 2006, pemerintah menyiapkan uang sebanyak 6 milyar untuk membuat landasan pacu baru, lalu kasus skandal seks anggota DPR yang terlalu dibesar-besarkan, juga masalah poligami seorang uztads ternama yang terlalu dipusingkan. Masalah-masalah korban lumpur Porong, gempa bumi Yogya, tsunami Aceh, kesejahteraan masayarakat, pelayanan kesehatan yang masih minim dan pelaksanaan pendidikan yang simpang siur menjadi terlupakan. Ini benar-benar kesalahan yang nyata. Mereka, para wakil rakyat kita tentunya mencontoh sikap-sikap yang berlaku saat mereka masih menjadi mahasiswa.
Berpijak pada berbagai pertimbangan di atas, kiranya perlu bagi calon mahasiswa untuk memilah dan memilih Perguruan Tinggi yang akan menjadi tempat menimba ilmu, wawasan, dan mengembangkan skill mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada beberapa waktu terakhir ini, masyarakat mulai banyak yang sadar akan pentingnya pedidikan. Sehingga diantara mereka tidak sedikit yang mencari sekolah/ kampus favorit dan berkualitas untuk pendidikan anaknya.
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang menjadi pilihan bagi calon mahasiswa, di samping melaksanakan proses perkuliahan yang sesuai dengan syariat Islam, STAIN hingga saat ini mencetak output yang mempunyai nilai tersendiri di masyarakat.
Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kea rah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan, secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui system kurikuler.
Dalam Al-Qur`an Surat an-Nahl ayat 125 Allah berfirman:
• •
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Keberhasilan dan kegagalan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh ketepatan guru dalam memilih dan menentukan strategi atau metode. Dan pada dasarnya tidak ada strategi atau metode yang paling ideal. Sebab masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Jika pemilihan dan penentuan strategi tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap sifat dari masing-masing metode, maka pencapaian tujuan pembelajaran tidak akan optimal dan bahkan mengalami kegagalan. Guru harus benar-benar memahami sifat-sifat masing-masing metode agar lebih mudah dalam memilih dan menentukan metode yang paling serasi dan sesuai untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Winarno Surakhman (1990:97) mengatakan bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu anak didik, tujuan pembelajaran, situasi, fasilitas atau sarana dan guru.
Jadi, untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang optimal guru diharapkan dapat menggunakan berbagai strategi secara tepat dan optimal.
Setelah melaksanakan pembelajaran/perkuliahan secara tepat dan optimal, tentunya harus dilakukan evaluasi untuk memperbaiki sistem yang masih belum sempurna.
Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya. Selain itu, evaluasi bertujuan mengetahui siapa di antara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar dapat mengejar kekurangannya. Sasaran evaluasi tidak bertujuan mengevaluasi peserta didik saja, tetapi juga bertujuan mengevaluasi pendidik, yaitu sejauh mana ia bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Fungsi evaluasi adalah membantu peserta didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya. Di samping itu, fungsi evaluasi juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbaangkan adequate (cukup memadai) metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya. Sasaran-sasaran evaluasi pendidikan Islam secara garis besarnya melihat empat kemampuan peserta didik, yaitu: (1) sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya; (2) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat; (3) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitar; dan (4) sikap dan pandangannya terhadap diri sendiri elaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta selaku khalifah-Nya di muka bumi. Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi kemampuan teknik menjadi masing-masing sebagai berikut:
1. Sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., yang tertuang dalam bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dan haji.
2. Sejauh mana ia dapat menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti akhlak yang mulia, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
3. Bagaimana is berusaha mengelola dan memelihara serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak ataukah memberi makna bagi kehidupan alam semesta.
4. Bagaimana dan sejauh mana ia memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku, dan agama.
Kalau dilihat lebih jauh, ciri-ciri khusus bagi evaluasi pendidikan modern adalah sebagai berikut: (1) lebih mementingkan hasil belajar fungsional daripada pengertian, skill, dan kesanggupan. Hal-hal yang diperhatikan adalah keseluruhan aspek perkembangan anak, baik fisik, intelek, emosi, sosial, spiritual, serta persesuaian (adjustment) individu dengan hubungan sosialnya; (2) lebih menitik-beratkan pada pengukuran (measurement) terhadap pemahaman dan interpretasi dan tidak lagi terhadap informasi yang terpisah-pisah, skill, maupun kesanggupan; (3) makin banyak menggunakan tes-tes informal sebagai pelengkap tes-tes formal; (4) mengembangkan analisis unsur-unsur kesanggupan mental seperti analisis terhadap kesanggupan membaca; (5) sebagai teknik dikembangkan untuk mengukur peranan individu maupun kelompok; dan (6) tes-tes kepribadian makin dikembangkan dan disebarkan.
Allah SWT. dalam mengevaluasi hamba-hamba-Nya tidak memandang formalitas, tetapi memandang substansi di balik tindakan hamba-hamba tersebut. Bahkan kualitas suatu perilaku lebih dipentingkan daripada kuantitasnya dalam proses evaluasi. Firman Allah SWT.: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj:37). “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. al-Mulk: 2) sabda Nabi SAW.: “sesungguhnya Allah tidak mengevaluasi pada bentuk dan rupa, postur tubuh serta harta kamu, tetapi Allah mengevaluasi pada hati dan amal perbuatanmu” (HR. Tabrani).
BAB III
PENUTUP
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.
Pembalajaran pada dasarnya juga merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat mengubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru atau pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan strategi pembelajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Biasanya dengan kasus tersebut mengakibatkan pelaksanan strategi pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran oleh guru tidak efektif dan efisien, baik dari segi proses maupun hasil yang dicapai.
Dari segi proses, pelaksanaan strategi pembelajaran kurang kondusif, yang ditandai dengan tidak tumbuhnya motivasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Cenderung siswa bersifat pasif terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kemudian dari segi hasil, hal itu dapat diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siwa rendah, dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Maka dari itu dibutuhkan beberapa strategi dalam proses perkuliahan, sehingga mahasiswa dapat merecieve mata kuliah dengan baik serta mudah mengimplementasikannya di masyarakat.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi mahasiswa dan calon mahasiswa STAIN Pamekasan dan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kami. Salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. yang telah mengantarkan manusia dari alam kejahilan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Dengan taufik dan hidayah-Nya kami telah menyelesaikan makalah yang berjudul ’’Kiat Sukses Belajar di STAIN’’. Besar harapan kami semoga dosen pembina bisa menerima dengan senang hati dan sebelumnya tidak menutup kemungkinan masih jauh dari kesempurnaan yang memerlukan perbaikan ,oleh karena itu kami mohon kepada dosen untuk memberikan saran kepada kami.
Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas ini, pun juga kepada dosen yang telah memberikan tugas makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat, amin.
Pamekasan, 7 September 2011
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah Perguruan Tinggi adalah memiliki budaya (culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik mahasiswa, dosen, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi, menjadikan Perguruan Tinggi tersebut unggul dan favorit di masyarakat.
Sebuah Perguruan Tinggi harus mempunyai misi menciptakan budaya yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.
Budaya-budaya yang terjadi di berbagai Perguruan Tinggi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah mahasiswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil.
Contohnya adalah budaya dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat daripada peningkatan mutu kampus. Seperti peraturan harus memakai sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak kampus sangat sulit untuk diminta bantuan dananya ketika ada mahasiswa yang berniat mengembangkan kreativitasnya. Misalnya berniat membuat film, atau mengadakan pameran robotik. Alasan pihak kampus bermacam-macam, dari yang tidak ada dana, sampai dananya sudah habis terpakai untuk hal-hal lainnya. Dari sinilah mahasiswa mencontoh perilaku pihak akademik, pada saatnya nanti, mahasiswa yang telah dewasa yang telah menduduki kursi pemerintahan akan bersikap sama seperti apa yang telah dilihatnya di kampusnya dulu.
Mengurusi hal-hal kecil juga adalah kesenangan pemerintah akhir-akhir ini. Seolah itu adalah pelarian dari masalah-masalah yang besar yang melanda negeri ini. Simaklah ketika Bush datang ke Indonesia tanggal 20 November 2006, pemerintah menyiapkan uang sebanyak 6 milyar untuk membuat landasan pacu baru, lalu kasus skandal seks anggota DPR yang terlalu dibesar-besarkan, juga masalah poligami seorang uztads ternama yang terlalu dipusingkan. Masalah-masalah korban lumpur Porong, gempa bumi Yogya, tsunami Aceh, kesejahteraan masayarakat, pelayanan kesehatan yang masih minim dan pelaksanaan pendidikan yang simpang siur menjadi terlupakan. Ini benar-benar kesalahan yang nyata. Mereka, para wakil rakyat kita tentunya mencontoh sikap-sikap yang berlaku saat mereka masih menjadi mahasiswa.
Berpijak pada berbagai pertimbangan di atas, kiranya perlu bagi calon mahasiswa untuk memilah dan memilih Perguruan Tinggi yang akan menjadi tempat menimba ilmu, wawasan, dan mengembangkan skill mereka.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada beberapa waktu terakhir ini, masyarakat mulai banyak yang sadar akan pentingnya pedidikan. Sehingga diantara mereka tidak sedikit yang mencari sekolah/ kampus favorit dan berkualitas untuk pendidikan anaknya.
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang menjadi pilihan bagi calon mahasiswa, di samping melaksanakan proses perkuliahan yang sesuai dengan syariat Islam, STAIN hingga saat ini mencetak output yang mempunyai nilai tersendiri di masyarakat.
Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kea rah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan, secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui system kurikuler.
Dalam Al-Qur`an Surat an-Nahl ayat 125 Allah berfirman:
• •
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Keberhasilan dan kegagalan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh ketepatan guru dalam memilih dan menentukan strategi atau metode. Dan pada dasarnya tidak ada strategi atau metode yang paling ideal. Sebab masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Jika pemilihan dan penentuan strategi tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap sifat dari masing-masing metode, maka pencapaian tujuan pembelajaran tidak akan optimal dan bahkan mengalami kegagalan. Guru harus benar-benar memahami sifat-sifat masing-masing metode agar lebih mudah dalam memilih dan menentukan metode yang paling serasi dan sesuai untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Winarno Surakhman (1990:97) mengatakan bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu anak didik, tujuan pembelajaran, situasi, fasilitas atau sarana dan guru.
Jadi, untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang optimal guru diharapkan dapat menggunakan berbagai strategi secara tepat dan optimal.
Setelah melaksanakan pembelajaran/perkuliahan secara tepat dan optimal, tentunya harus dilakukan evaluasi untuk memperbaiki sistem yang masih belum sempurna.
Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya. Selain itu, evaluasi bertujuan mengetahui siapa di antara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar dapat mengejar kekurangannya. Sasaran evaluasi tidak bertujuan mengevaluasi peserta didik saja, tetapi juga bertujuan mengevaluasi pendidik, yaitu sejauh mana ia bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Fungsi evaluasi adalah membantu peserta didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya. Di samping itu, fungsi evaluasi juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbaangkan adequate (cukup memadai) metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya. Sasaran-sasaran evaluasi pendidikan Islam secara garis besarnya melihat empat kemampuan peserta didik, yaitu: (1) sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya; (2) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat; (3) sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitar; dan (4) sikap dan pandangannya terhadap diri sendiri elaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta selaku khalifah-Nya di muka bumi. Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi kemampuan teknik menjadi masing-masing sebagai berikut:
1. Sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Dengan indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., yang tertuang dalam bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dan haji.
2. Sejauh mana ia dapat menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti akhlak yang mulia, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
3. Bagaimana is berusaha mengelola dan memelihara serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak ataukah memberi makna bagi kehidupan alam semesta.
4. Bagaimana dan sejauh mana ia memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku, dan agama.
Kalau dilihat lebih jauh, ciri-ciri khusus bagi evaluasi pendidikan modern adalah sebagai berikut: (1) lebih mementingkan hasil belajar fungsional daripada pengertian, skill, dan kesanggupan. Hal-hal yang diperhatikan adalah keseluruhan aspek perkembangan anak, baik fisik, intelek, emosi, sosial, spiritual, serta persesuaian (adjustment) individu dengan hubungan sosialnya; (2) lebih menitik-beratkan pada pengukuran (measurement) terhadap pemahaman dan interpretasi dan tidak lagi terhadap informasi yang terpisah-pisah, skill, maupun kesanggupan; (3) makin banyak menggunakan tes-tes informal sebagai pelengkap tes-tes formal; (4) mengembangkan analisis unsur-unsur kesanggupan mental seperti analisis terhadap kesanggupan membaca; (5) sebagai teknik dikembangkan untuk mengukur peranan individu maupun kelompok; dan (6) tes-tes kepribadian makin dikembangkan dan disebarkan.
Allah SWT. dalam mengevaluasi hamba-hamba-Nya tidak memandang formalitas, tetapi memandang substansi di balik tindakan hamba-hamba tersebut. Bahkan kualitas suatu perilaku lebih dipentingkan daripada kuantitasnya dalam proses evaluasi. Firman Allah SWT.: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj:37). “yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. al-Mulk: 2) sabda Nabi SAW.: “sesungguhnya Allah tidak mengevaluasi pada bentuk dan rupa, postur tubuh serta harta kamu, tetapi Allah mengevaluasi pada hati dan amal perbuatanmu” (HR. Tabrani).
BAB III
PENUTUP
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.
Pembalajaran pada dasarnya juga merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat mengubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru atau pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan strategi pembelajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Biasanya dengan kasus tersebut mengakibatkan pelaksanan strategi pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran oleh guru tidak efektif dan efisien, baik dari segi proses maupun hasil yang dicapai.
Dari segi proses, pelaksanaan strategi pembelajaran kurang kondusif, yang ditandai dengan tidak tumbuhnya motivasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Cenderung siswa bersifat pasif terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kemudian dari segi hasil, hal itu dapat diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siwa rendah, dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Maka dari itu dibutuhkan beberapa strategi dalam proses perkuliahan, sehingga mahasiswa dapat merecieve mata kuliah dengan baik serta mudah mengimplementasikannya di masyarakat.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi mahasiswa dan calon mahasiswa STAIN Pamekasan dan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Selasa, 18 Oktober 2011
peluang usaha budidaya tanaman Jarak Pagar di Madura
Menggagas Perekonomian Baru di Madura dengan Budidaya Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas)
Oleh: Munawirur Rahman
(Public Relation Staff of Bionas Madura)
Di Indonesia terdapat berbagai jenis tanaman jarak antara lain jarak kepyar (Ricinus communis), jarak bali (Jatropha podagrica ), jarak ulung (Jatropha gossypifolia L.) dan jarak pagar Jatropha curcas). Diantara jenis tanaman jarak tersebut yang memiliki potensi sebagai sumber bahan bakar alternatif adalah jarak pagar (Jatropha curcas) dalam bahasa inggris disebut ”Physic Nut”. Jarak Pagar (Jatropha curcas) seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman jarak kepyar (Ricinus communis) dalam bahasa Inggris disebut ”Castor Bean”. Tanaman jarak Jatropha curcas (Physic Nut) dan Ricinus communis (Castor Bean) ini juga sama-sama banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia, bahkan dari kedua jenis tanaman ini dapat diperoleh ekstrak minyak dari bijinya. Hanya saja tanaman jarak Ricinus communis seringkali terkait dengan produksi ”ricin” yaitu racun yang berbahaya dan banyak digunakan untuk penelitian terapi penyakit kanker, sedangkan tanaman jarak Jatropha curcas menghasilkan racun ”krusin” tetapi lebih banyak terkait dengan informasi ”biodiesel” atau ”biofuel”. Kedua tanaman ini berbeda baik dalam bentuk morfologi tanaman maupun minyak yang dihasilkannya.
Jarak Pagar juga dikenal dengan nama jarak budeg, jarak gundul, atau jarak cina. Tanaman yang berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah ini tahan kekeringan dan tumbuh dengan cepat. Jarak Pagar berbeda dengan Jarak kaliki atau Jarak kepyar atau Jarak kosta (Ricinus communis), yang mempunyai ciri seperti tanaman singkong racun, buahnya berbulu seperti rambutan. Jarak kepyar juga menghasilkan minyak dan digunakan sebagai bahan baku atau bahan tambahan industri cat vernis, plastik, farmasi, dan kosmetika, sehingga sudah lama dibudidayakan secara komersial di Indonesia. Akan tetapi, minyak jarak kepyar tidak cocok digunakan sebagai bahan bakar biofuel karena terlalu kental, jadi hanya bisa digunakan sebagai pelumas. Jarak kepyar atau jarak kaliki (Ricinus communis), merupakan tanaman tahunan berumur pendek ( bianual), berbuah setahun sekali ( terminal ), sedangkan jarak pagar ( Jatropha curcas ) mampu berbuah terus menerus apabila Agroklimatnya mendukung.
Jarak pagar tergolong tanaman liar yang mudah hidup dimana saja sehingga lahan di Madura mempunyai potensi besar untuk mengembangkan budidaya jarak pagar ini. Sejak penanaman, jarak pagar membutuhkan waktu lebih kurang 6 bulan untuk dapat berbuah, setelah itu jarak pagar dapat berbuah terus-menerus hingga berumur 45 tahun sehingga petani jarak pagar mempunyai penghasilan tetap tiap bulan. Selain perawatannya mudah, jarak pagar tidak membutuhkan banyak biaya karena pemupukannya menggunakan pupuk kandang.
Menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Ada satu optimisme peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel. Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk energi alternatif dari minyak jarak ini.
Pengembangan pohon Jarak Pagar untuk diolah menjadi bahan bakar memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai proyek bisnis di Madura. Sekaligus mendukung upaya clean development mechanism (CDM) atau mekanisme pembangunan bersih lingkungan, seperti diatur dalam Protokol Kyoto.
Kuncinya sekarang adalah bagaimana supaya manfaat peluang besar ini bisa dinikmati oleh para petani dan masyarakat miskin di Madura.
Tips menjadi jenius
Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk posting blog yang tidak ada gambarnya, karena kurang minat pembaca. Tapi aku buat pengecualian ini. Sebab telah banyak terjadi kesalahan persepsi yang mengatakan bahwa orang genius itu adalah faktor gen. itu adalah kesalahan besar
Baca Terus blog ini jika anda memiliki niat untuk berubah dan menghapus pikiran bahwa anda bukan keturunan orang cerdas..
Kemampuan matematika, musik atau cara berbicara dianggap sebagai bakat bawaan atau biologis dalam gen manusia. Tapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena bakat bisa diperoleh dengan latihan.
David Shenk, seorang penulis Amerika di bidang genetika, meminta orang untuk berpikir lagi jika mengatakan bakat atau kejeniusan seseorang berasal sepenuhnya dari gen alias keturunan.
Menurutnya, kecenderungan untuk mengatakan kemampuan tersebut adalah genetik (predisposisi) telah sangat dilebih-lebihkan. Pandangan ini menyebabkan terabaikannya potensi yang dimiliki dalam diri seseorang.
“Ada kesalahpahaman yang mendalam tentang sebuah prestasi besar. Gen tidak membatasi kita untuk biasa-biasa saja atau lebih buruk dari itu,” kata David Shenk, seperti dilansir dari Timesonline, Kamis (25/3/2010).
Dalam buku barunya The Genius in All of Us, yang menggambarkan perbandingan dengan karya sosiolog pop Kanada Malcolm Gladwell, Shenk menggambarkan bahwa DNA manusia terbuka untuk terus-menerus dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal.
Alam dan pemeliharaannya secara konstan berinteraksi, sama halnya dengan gen yang dapat diaktifkan atau dinon-aktifkan atau diungkapkan ke derajat yang berbeda-beda, tergantung pada lingkungannya.
Bidang epigenetika semakin menunjukkan bahwa pengalaman lingkungan selama hidup meninggalkan jejak pada gen, yang diwariskan kepada anak-anak. Shenk berpandangan pengaruh lingkungan dapat melebihi apa yang mungkin dianggap sebagai keterbatasan manusia.
Sebagai contoh kemampuan bermusik. Banyak pemusik yang mengatakan bahwa dia terlahir tanpa bakat musik atau ada yang mangatakan dia terlahir untuk bermusik. Faktanya adalah tidak ada seseorang yang terlahir dengan bakat bawaan. Setiap orang terlahir dengan potensi nada bermusik.
Hal ini bisa dilihat dalam jumlah keseluruhan kasus (prevalensi) yang jauh lebih tinggi seperti China negara yang berbahasa dengan nada yang sempurna. Orang China berkomunikasi sehari-hari dengan nada yang sempurna, sehingga menjadi lebih baik dalam hal itu.
Memiliki keunggulan genetik dalam bidang olahraga tertentu juga dipertanyakan. Keberhasilan pelari maraton Kenya misalnya bukan berasal dari gen melainkan budaya yang telah mendarah daging. Banyak anak-anak Kenya berlari 8 hingga 10 km per hari sejak usia 7 tahun.
Bahkan ciri-ciri kepribadian seperti keuletan atau ketekunan untuk mempengaruhi keberhasilan dalam setiap bidang kehidupan dapat dilatih.
Persepsi pembatasan diri adalah salah satu hambatan terbesar untuk prestasi besar atau jenius. Dalam sebuah percobaan, anak-anak diberi diberi pilihan untuk menerima satu marshmallow dengan segera atau menunggu 15 menit untuk mendapatkan dua buah marshmallow.
Sepertiga dari anak-anak segera memilih satu marshmallow (manisan), sepertiga lainnya menunggu beberapa menit, tetapi menyerah karena tergoda, sedangkan sepertiga terakhir sabar menunggu untuk menerima dua marshmallow.
Pesan yang diperoleh dari hal ini adalah anak yang secara alami lebih disiplin dan ditakdirkan untuk berbuat lebih baik. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa anak-anak dapat diajarkan manfaat menunda kepuasan. Shenk mengatakan bahwa semua orang tua bisa belajar dari ini.
“Ada logika melingkar tentang bakat. Ketika Anda melihat seseorang yang hebat, misalnya David Beckham sebagai pemain sepak bola, mereka begitu jauh dari apa yang Anda mampu, kemudian Anda akan berasumsi bahwa Anda tidak bisa sampai di sana,” kata Shenk.
Shenk mengakui bahwa judul bukunya dimaksudkan untuk menjadi provokatif, tetapi ia mengatakan, “Saya tidak mengatakan bahwa siapa pun bisa apa saja, tapi tidak ada yang dapat menjadi besar dalam segala hal kecuali jika mereka memiliki keyakinan mendasar tentang kemungkinan”.
Bagaimana mengubah anak menjadi jenius?
1. Percaya
Mulailah dengan sebuah keyakinan yang sederhana bahwa setiap anak memiliki potensi besar dan terserah kepada orang tua untuk mengumpulkan sumber daya tersebut untuk dieksploitasi.
2. Model pengendalian diri
Berperilakulah sebagai contoh agar anak juga berperilaku seperti yang kita inginkan. Tidak membeli, makan atau mengambil apapun yang kita inginkan, kapanpun kita inginkan. Semakin kita menunjukkan pengendalian diri, semakin anak akan menyerap.
3. Berlatih
Jangan segera menanggapi setiap permohonan anak. Biarkan anak belajar berurusan dengan frustasi dan keinginan. Biarkan mereka belajar bagaimana menenangkan diri dan menemukan bahwa segalanya akan baik-baik jika mereka menunggu apa yang mereka inginkan.
Bagaimana mengubah diri menjadi jenius?
1. Mengidentifikasi keterbatasan dan kemudian mengabaikannya
Jarak antara kemampuan yang dimiliki dan kemampuan yang diinginkan begitu besar sehingga tujuan yang muncul tidak tercapai. Kebesaran tidak hanya satu langkah yang biasa-biasa saja, melainkan melampaui yang biasa-biasa saja dengan satu langkah.
2. Menunda kepuasan
Dalam budaya konsumen, kita senantiasa dikondisikan untuk memenuhi keinginan dengan segera. Prestasi besar melampau keinginan itu.
3. Punya sosok pahlawan
Pahlawan menginspirasi, bukan hanya karena karya besarnya tetapi awal sederhana yang mereka miliki. Einstein pernah bekerja sebagai petugas memberi hak paten atau Thomas Edison dikeluarkan dari sekolah di kelas pertama, pada usia 6 atau 7 tahun karena guru menganggapnya terbelakang.
Baca Terus blog ini jika anda memiliki niat untuk berubah dan menghapus pikiran bahwa anda bukan keturunan orang cerdas..
Kemampuan matematika, musik atau cara berbicara dianggap sebagai bakat bawaan atau biologis dalam gen manusia. Tapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena bakat bisa diperoleh dengan latihan.
David Shenk, seorang penulis Amerika di bidang genetika, meminta orang untuk berpikir lagi jika mengatakan bakat atau kejeniusan seseorang berasal sepenuhnya dari gen alias keturunan.
Menurutnya, kecenderungan untuk mengatakan kemampuan tersebut adalah genetik (predisposisi) telah sangat dilebih-lebihkan. Pandangan ini menyebabkan terabaikannya potensi yang dimiliki dalam diri seseorang.
“Ada kesalahpahaman yang mendalam tentang sebuah prestasi besar. Gen tidak membatasi kita untuk biasa-biasa saja atau lebih buruk dari itu,” kata David Shenk, seperti dilansir dari Timesonline, Kamis (25/3/2010).
Dalam buku barunya The Genius in All of Us, yang menggambarkan perbandingan dengan karya sosiolog pop Kanada Malcolm Gladwell, Shenk menggambarkan bahwa DNA manusia terbuka untuk terus-menerus dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal.
Alam dan pemeliharaannya secara konstan berinteraksi, sama halnya dengan gen yang dapat diaktifkan atau dinon-aktifkan atau diungkapkan ke derajat yang berbeda-beda, tergantung pada lingkungannya.
Bidang epigenetika semakin menunjukkan bahwa pengalaman lingkungan selama hidup meninggalkan jejak pada gen, yang diwariskan kepada anak-anak. Shenk berpandangan pengaruh lingkungan dapat melebihi apa yang mungkin dianggap sebagai keterbatasan manusia.
Sebagai contoh kemampuan bermusik. Banyak pemusik yang mengatakan bahwa dia terlahir tanpa bakat musik atau ada yang mangatakan dia terlahir untuk bermusik. Faktanya adalah tidak ada seseorang yang terlahir dengan bakat bawaan. Setiap orang terlahir dengan potensi nada bermusik.
Hal ini bisa dilihat dalam jumlah keseluruhan kasus (prevalensi) yang jauh lebih tinggi seperti China negara yang berbahasa dengan nada yang sempurna. Orang China berkomunikasi sehari-hari dengan nada yang sempurna, sehingga menjadi lebih baik dalam hal itu.
Memiliki keunggulan genetik dalam bidang olahraga tertentu juga dipertanyakan. Keberhasilan pelari maraton Kenya misalnya bukan berasal dari gen melainkan budaya yang telah mendarah daging. Banyak anak-anak Kenya berlari 8 hingga 10 km per hari sejak usia 7 tahun.
Bahkan ciri-ciri kepribadian seperti keuletan atau ketekunan untuk mempengaruhi keberhasilan dalam setiap bidang kehidupan dapat dilatih.
Persepsi pembatasan diri adalah salah satu hambatan terbesar untuk prestasi besar atau jenius. Dalam sebuah percobaan, anak-anak diberi diberi pilihan untuk menerima satu marshmallow dengan segera atau menunggu 15 menit untuk mendapatkan dua buah marshmallow.
Sepertiga dari anak-anak segera memilih satu marshmallow (manisan), sepertiga lainnya menunggu beberapa menit, tetapi menyerah karena tergoda, sedangkan sepertiga terakhir sabar menunggu untuk menerima dua marshmallow.
Pesan yang diperoleh dari hal ini adalah anak yang secara alami lebih disiplin dan ditakdirkan untuk berbuat lebih baik. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa anak-anak dapat diajarkan manfaat menunda kepuasan. Shenk mengatakan bahwa semua orang tua bisa belajar dari ini.
“Ada logika melingkar tentang bakat. Ketika Anda melihat seseorang yang hebat, misalnya David Beckham sebagai pemain sepak bola, mereka begitu jauh dari apa yang Anda mampu, kemudian Anda akan berasumsi bahwa Anda tidak bisa sampai di sana,” kata Shenk.
Shenk mengakui bahwa judul bukunya dimaksudkan untuk menjadi provokatif, tetapi ia mengatakan, “Saya tidak mengatakan bahwa siapa pun bisa apa saja, tapi tidak ada yang dapat menjadi besar dalam segala hal kecuali jika mereka memiliki keyakinan mendasar tentang kemungkinan”.
Bagaimana mengubah anak menjadi jenius?
1. Percaya
Mulailah dengan sebuah keyakinan yang sederhana bahwa setiap anak memiliki potensi besar dan terserah kepada orang tua untuk mengumpulkan sumber daya tersebut untuk dieksploitasi.
2. Model pengendalian diri
Berperilakulah sebagai contoh agar anak juga berperilaku seperti yang kita inginkan. Tidak membeli, makan atau mengambil apapun yang kita inginkan, kapanpun kita inginkan. Semakin kita menunjukkan pengendalian diri, semakin anak akan menyerap.
3. Berlatih
Jangan segera menanggapi setiap permohonan anak. Biarkan anak belajar berurusan dengan frustasi dan keinginan. Biarkan mereka belajar bagaimana menenangkan diri dan menemukan bahwa segalanya akan baik-baik jika mereka menunggu apa yang mereka inginkan.
Bagaimana mengubah diri menjadi jenius?
1. Mengidentifikasi keterbatasan dan kemudian mengabaikannya
Jarak antara kemampuan yang dimiliki dan kemampuan yang diinginkan begitu besar sehingga tujuan yang muncul tidak tercapai. Kebesaran tidak hanya satu langkah yang biasa-biasa saja, melainkan melampaui yang biasa-biasa saja dengan satu langkah.
2. Menunda kepuasan
Dalam budaya konsumen, kita senantiasa dikondisikan untuk memenuhi keinginan dengan segera. Prestasi besar melampau keinginan itu.
3. Punya sosok pahlawan
Pahlawan menginspirasi, bukan hanya karena karya besarnya tetapi awal sederhana yang mereka miliki. Einstein pernah bekerja sebagai petugas memberi hak paten atau Thomas Edison dikeluarkan dari sekolah di kelas pertama, pada usia 6 atau 7 tahun karena guru menganggapnya terbelakang.
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=81378
Langganan:
Postingan (Atom)